Pasang Iklan Gratis

Aksi protes besar-besaran dalam sejarah Amerika diprediksi terjadi pada 28 Maret 2026

 Lebih dari 3.100 acara direncanakan di seluruh Amerika Serikat untuk memprotes tindakan dan kebijakan Presiden Donald Trump

Penyelenggara memperkirakan aksi protes “No Kings” akan menarik jutaan warga Amerika ke jalanan, menurut laporan USA Today.

Dua aksi “No Kings” sebelumnya juga telah menarik massa dalam jumlah besar.

Penyelenggara berharap acara ini menjadi salah satu hari protes terbesar dalam sejarah AS.

Organisasi nirlaba American Civil Liberties Union (ACLU) memperkirakan bahwa protes “No Kings” pada Juni 2025 menarik sekitar 5 juta orang dalam 1.800 acara, sementara demonstrasi Oktober 2025 menarik 7 juta orang dalam 2.500 acara.

Perkiraan ACLU tersebut sejalan dengan temuan Konsorsium Penghitungan Kerumunan Universitas Harvard.

Pendiri Indivisible, Leah Greenberg, mengatakan para penyelenggara memperkirakan orang-orang akan berdemonstrasi karena berbagai alasan, mulai dari penegakan hukum imigrasi hingga seruan pemakzulan.

“Yang penting adalah orang-orang keluar dan membangun koneksi,” ujarnya.

Indivisible merupakan salah satu organisasi penyelenggara.

Wakil Presiden Public Citizen, Robert Weissman, mengatakan bahwa sejak protes massal pertama pada masa jabatan kedua Trump setahun lalu, yakni “No Hands Protests”, sebagian warga Amerika menolak menyerah terhadap apa yang mereka anggap sebagai upaya pemerintah menebar ketakutan.

Para penyelenggara No Kings telah membangun koalisi yang mencakup buruh, aktivis progresif, kelompok hak sipil, dan pemimpin agama.

Selain Indivisible dan Public Citizen, organisasi lain yang terlibat antara lain MoveOn, Human Rights Campaign, Women’s March, dan Working Families Power, serta sejumlah serikat pekerja dan kelompok akar rumput seperti 50501 yang terbentuk sejak Hari Pemilu 2024.

Nama “No Kings” berasal dari keyakinan para penyelenggara bahwa Trump bertindak seperti seorang raja, bukan pemimpin demokratis.

Momen ketiga protes diumumkan di tengah meningkatnya penegakan hukum imigrasi, yang memuncak di Minneapolis, serta insiden tewasnya dua warga negara AS yang memantau penangkapan oleh petugas imigrasi.

Namun, para penyelenggara menegaskan bahwa masyarakat dipersilakan untuk memprotes isu apa pun yang mereka anggap penting terkait pemerintahan Trump.

Ketika diminta mengomentari protes tersebut, juru bicara Gedung Putih Abigail Jackson mengatakan, “Satu-satunya orang yang peduli dengan ‘sesi terapi kegilaan Trump’ ini adalah para reporter yang dibayar untuk meliputnya.”

Pendiri Indivisible Kansas City, Beverly Harvey, mengatakan kepada USA Today bahwa alasan seseorang ikut berdemonstrasi tidaklah penting, selama mereka tidak menyukai kebijakan pemerintah.

Aksi protes dijadwalkan berlangsung di kota besar, pinggiran kota, hingga kota kecil di seluruh negeri.

Sejak masa jabatan kedua Trump dimulai, para penyelenggara lebih fokus pada aksi yang mudah diakses, bukan hanya aksi besar yang mengharuskan peserta melakukan perjalanan jauh.

Menurut mereka, strategi ini membantu memperluas jaringan dukungan sekaligus menunjukkan bahwa ketidakpuasan terjadi di berbagai daerah.

Greenberg mengatakan setiap demonstrasi baru mendorong terbentuknya lebih banyak organisasi lokal.

Ia menyebutkan bahwa 20 hingga 50 kelompok Indivisible baru terbentuk setiap minggu.

Twin Cities, Minnesota Jadi Pusat Aksi Protes

Setelah berbulan-bulan menjadi pusat penegakan hukum imigrasi yang meningkat dan menarik ribuan orang ke jalanan, wilayah Twin Cities di Minnesota akan menjadi lokasi utama protes.

Acara ini akan menghadirkan politisi lokal serta sejumlah tokoh seperti musisi Bruce Springsteen, Maggie Rogers, dan Joan Baez; Senator Vermont Bernie Sanders; serta aktris Jane Fonda.

Pawai dari tiga titik akan berkumpul di Gedung Capitol negara bagian di St. Paul untuk mengikuti konser dan mendengarkan pidato.

Lisa Erbes (69), salah satu pemimpin Indivisible Twin Cities, mengatakan penyelenggara memperkirakan jumlah peserta akan melampaui 150.000 orang, melebihi demonstrasi No Kings pada Oktober sebelumnya.

Ia menegaskan bahwa meskipun menghadirkan tokoh nasional, aksi ini tetap berfokus pada partisipasi warga lokal.

Perlawanan di Twin Cities terhadap kebijakan imigrasi mencakup patroli warga untuk memantau aktivitas ICE serta bantuan komunitas bagi keluarga yang terdampak, seperti distribusi makanan dan penggalangan dana.

Dua aktivis yang memantau aktivitas ICE dilaporkan tewas dalam bentrokan dengan petugas imigrasi.

Ezra Levin, salah satu pendiri Indivisible, mengatakan solidaritas warga di Twin Cities menjadi alasan utama wilayah tersebut dipilih sebagai pusat aksi.

Jajak Pendapat: Ketidakpuasan terhadap Trump Meningkat

Tingkat ketidaksetujuan terhadap Presiden Donald Trump mencapai angka tertinggi selama dua masa jabatannya, menurut jajak pendapat terbaru Fox News.

Survei yang dirilis Rabu (25/3/2026) menunjukkan 59 persen pemilih terdaftar tidak menyetujui kinerja Trump, dengan 47 persen di antaranya menyatakan sangat tidak setuju.

Sebaliknya, 41 persen menyatakan setuju, dengan 22 persen di antaranya sangat menyetujui.

Angka ketidaksetujuan ini lebih tinggi dibandingkan puncak sebelumnya, yakni 58 persen pada November masa jabatan kedua dan 57 persen pada Oktober 2017 saat masa jabatan pertama.

Mayoritas responden juga tidak menyetujui kebijakan luar negeri Trump, dengan 62 persen menolak secara umum dan 64 persen secara khusus menolak penanganan konflik dengan Iran.

Jajak pendapat Fox News juga menunjukkan 58 persen responden menentang operasi militer AS di Iran, sementara 42 persen mendukungnya.

Sementara itu, jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan Trump berada di angka 36 persen, dengan 62 persen responden tidak puas terhadap kinerjanya.

Sebanyak 52 persen responden menilai kebijakan AS di Iran tidak berjalan baik, dan 44 persen menilai aksi militer tersebut justru membuat AS kurang aman.

AS dan Iran juga semakin memperkeras posisi masing-masing di tengah potensi negosiasi gencatan senjata.

Kedua pihak telah mengajukan rencana perdamaian, namun Iran menolak proposal 15 poin dari AS dan mengajukan versinya sendiri, termasuk tuntutan kedaulatan atas Selat Hormuz dan penghentian permusuhan.

Trump mendesak agar negosiator Iran segera bersikap serius, dengan peringatan bahwa “tidak akan ada jalan kembali” jika gagal mencapai kesepakatan.

Survei Fox News dilakukan pada 20–23 Maret terhadap 1.001 responden, dengan margin kesalahan 3 poin persentase.


0 Response to "Aksi protes besar-besaran dalam sejarah Amerika diprediksi terjadi pada 28 Maret 2026"

Posting Komentar