Ekologi dan Guru Besar Biologi di UMM Ungkap Fakta Lapangan dan Riset Ilmiah Pagerungan Kecil
Merespon sorotan public tentang wilayah Pagerungan Kecil yang disandingkan dengan peran Kangean Energy Indonesia (KEI) dan dinilai negatif, dibantah oleh pakar literasi lingkungan dan ekologi, serta guru besar Biologi dan Ilmu Lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Dalam tudingan tersebut menyebutkan bahwa aktivitas eksplorasi gas bumi yang lakukan oleh Kangean Energy Indonesia di wilayah Kepulauan Sapeken, Sumenep, Jawa Timur, telah merusak lingkungan.
Dua pakar lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyatakan, bahwa tudingan tersebut tidak berdasar dan tidak sesuai dengan fakta lapangan serta hasil penelitian ilmiah.
Dua akademisi tersebut, yakni Dr. Husamah, merupakan putra daerah pagerungan kecil yang saat ini berprofesi sebagai Dosen UMM, sekaligus pakar literasi lingkungan dan ekologi, serta Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si, selaku guru besar Biologi dan Ilmu Lingkungan, mengaku telah melakukan penelitian ekstensif selama lebih dari 10 tahun di wilayah Pagerungan Besar, Pagerungan Kecil, dan sekitarnya.
“Kerusakan ekosistem laut di wilayah tersebut bukan disebabkan oleh aktivitas KEI, melainkan oleh praktik penangkapan ikan merusak seperti penggunaan bom ikan, racun potasium, dan pengambilan terumbu karang oleh masyarakat,” ungkap Dr. Husamah dalam keterangan tertulis.
Ia menilai, justru sebaliknya, KEI selama ini berperan aktif dalam kegiatan konservasi dan edukasi masyarakat, termasuk mendorong alih profesi dari pemburu hiu menjadi pembudidaya rumput laut dan teripang.
Langkah ini didokumentasikan dalam berbagai jurnal ilmiah internasional yang menyoroti transformasi sosial-ekologis masyarakat pesisir di Sapeken.
Tak hanya itu, sebagian masyarakat juga kerap mengambil karang dan rataan terumbu sebagai bahan bangunan, serta mencari kerang abalone (“mata tujuh”) dengan cara merusak struktur karang. Melihat fenomena ini, KEI justru hadir sebagai mitra konservasi bersama masyarakat.
“Kami menyaksikan sendiri, KEI menginisiasi edukasi dan penguatan komunitas, khususnya pemuda dan karang taruna, untuk pelestarian terumbu karang. KEI menyadari pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem laut,” ungkap Dr. Husamah.
Prof. Abdulkadir menambahkan, KEI juga terlibat dalam program restorasi mangrove dan pelestarian spesies lokal. Data observasi terbaru (2024–2025) mencatat kehadiran berbagai jenis burung, termasuk spesies langka seperti Elang Laut Perut Putih dan Cendet Madura di area sekitar tambang
“Jika terjadi kerusakan ekologis masif akibat tambang, spesies-spesies tersebut mustahil bertahan. Ini bukti bahwa KEI mengedepankan prinsip keberlanjutan,” ujarnya.
Selain menjaga biodiversitas, KEI turut mendampingi desa tertinggal seperti Pagerungan Kecil dalam menyediakan akses energi melalui perbaikan pasokan listrik, yang sebelumnya hanya menyala lima jam per hari.
Soal mengurai mitos dan informasi keliru, Pakar UMM juga meluruskan isu mengenai berkurangnya tangkapan ikan dan jarak melaut yang semakin jauh. Menurutnya, fenomena ini lebih disebabkan oleh kerusakan ekosistem akibat ulah manusia, kapal penangkap besar dari luar daerah, dan eksploitasi padang lamun.
“Bukan karena aktivitas KEI,” Ungakapnya dengan tegas.
Dengan landasan riset dan observasi panjang, keduanya menegaskan bahwa narasi negatif terhadap KEI tidak didasarkan pada data ilmiah.
“Kami berharap publik dan media tidak terjebak pada asumsi. KEI telah membuktikan komitmen terhadap lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui kerja nyata,” paparnya.
Kemudian, langkah ini diperkuat melalui pendekatan riset yang telah dipublikasikan dalam jurnal internasional: From Shark Hunter to Seaweed and Sea-Cucumber Cultivator: A Phenomenology Study at Sapeken Islands, Indonesia, di American Journal of Humanities and Social Sciences, Vol. 2 No. 10, hlm. 119–124.
“Dalam riset tersebut, dijelaskan transformasi sosial-ekologis masyarakat Sapeken, dari pemburu hiu demi siripnya menjadi pelaku akuakultur berkelanjutan” jelasnya.
Selanjutnya, potensi budidaya teripang (Holothuroidea) menjadi fokus utama. KEI bersama akademisi UMM juga menerbitkan riset: Community structure, diversity, and distribution patterns of sea cucumber in the coral reef area of Sapeken Islands (AACL Bioflux, Vol. 13 No. 4, 2020)
“Penelitian ini menekankan pentingnya menjaga karang dan mangrove, sebagai habitat kunci dari spesies teripang yang bernilai ekonomis tinggi dan mendukung keberlanjutan mata pencaharian masyarakat,” ujarnya.
Tidak sampai disitu, dalam rangkaian penelitian ekologis tahun 2024, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto mencatat keberadaan beragam spesies burung yang masih hidup lestari di wilayah tambang dan sekitarnya, diantaranya:
Burung Kecil dan Sedang:
• Pleci Belukar (Zosterops flavus) – 62 ekor
• Seriti (Collocalia vestita) – 224 ekor
• Cendet Madura (Lanius vittatus) – 10 ekor (endemik dan hampir punah)
• Tekukur (Spilopelia chinensis) – 72 ekor
• Gagak hutan (Corvus enca) – 19 ekor
• Kacer dan Kucica Hitam – masih ditemukan dalam jumlah terbatas
Burung Paruh Panjang dan Besar:
• Gajahan Besar (Numenius arquata) – 28 ekor (dilindungi)
• Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster) – 3 ekor
• Kuntul Karang dan Cangak Abu – populasi stabil
“Jika lingkungan rusak total, spesies-spesies ini akan lenyap lebih cepat. Fakta keberadaan mereka merupakan bukti keutuhan ekosistem yang dijaga,” tukas Prof. Rahardjanto.
0 Response to "Ekologi dan Guru Besar Biologi di UMM Ungkap Fakta Lapangan dan Riset Ilmiah Pagerungan Kecil"
Posting Komentar